![]() |
| Src: wallpaperflare.com |
Pernahkah hujan terasa begitu sunyi, seakan setiap rintiknya adalah panggilan tanpa jawaban? Kehilangan bukan sekadar soal kepergian; ia adalah tentang ruang kosong yang tak lagi terisi, bahkan oleh suara tawa yang dulu membuat dunia terasa utuh.
Aku tidak lagi membenci hujan, sejak rintiknya melebur bersama tawamu.
Guntur-guntur yang membuat tubuh ini gemetaran, sekarang hanya menghantarkan garis senyum ke wajahku, saat aku ingat dulu, betapa keras kepalanya kau, ingin bermain hujan di tengah petir.
Sore tadi juga hujan...
Tapi, sayangnya, tawa-tawa itu tidak lagi menghuni indra pendengaranku.
Sore paling beda, hanya dipenuhi rintik-rintik sepi,
basah kuyup oleh kehampaan, disambar kilat kerinduan.
Melalui senandung hujan, tuan,
semoga periode hilangmu cepat usai.
Jangan lama-lama; tubuh ringkih ini menggigil tanpa hangat yang selalu mendekap,
tanpa kepalsuan, tanpa sakit kemudian hari.
Oleh: Lembayung Amerta
Namun, biarkan hujan ini menjadi utusan—menghapus jarak, menyampaikan rindu. Karena setiap badai akan reda, dan yang hilang akan menemukan jalan pulang. Sampai saat itu tiba, aku tetap di sini, menunggu, dalam dekapan rintik yang tak pernah salah memilih kata.
Find me :




2 komentar