doYbBlURckneUDD7iKti5OGNDryxnl8wVYB70j9n
Bookmark

Prosa Puitis "Aku Ikhlas" | Oleh Inisial L

Prosa Puitis "Aku Ikhlas"
Src: wallpaperflare.com

Pernahkah kau merasa, meski dunia terus bergerak maju, ada bagian dalam dirimu yang tetap berdiri di satu tempat—tempat di mana hatimu patah, di mana harapanmu tertinggal? Aku pernah, dan setiap kali mencoba melangkah, bayang-bayang masa lalu seakan memanggilku untuk kembali.

Terkadang, ada ingin untuk kembali menyapa seseorang yang sudah jauh sekali berlalu, namun, melihat betapa indahnya senyumnya setelah aku tiada, rasanya semakin sadar bahwa hadirku tak pernah diharapkan.

Hanya, ada semoga, untuknya, di sana. 

Kau tahu, di saat kau melangkahkan kaki dan memutuskan semuanya berakhir, di saat itu pula lah aku merasa bahagiaku juga berakhir.

Aku selalu dipenuhi rasa cemas akan kabarmu, padahal aku tahu kau sedang baik-baik saja bersama seseorang yang kau pilih setelah menyingkirkanku. Aku selalu merindukanmu, padahal aku tahu, memikirkanku saja kamu sudah tidak. 

Betapa aku sadar bahwa aku adalah manusia menyedihkan; Menjadi payung untuk seseorang yang lebih menyukai tetesan hujan. Aku rentangkan diriku, aku lindungi tubuhmu. 

Namun, kau lemparkan aku jauh ke tepi, lalu memilih basah oleh air yang tanpa kau ketahui dapat membuatmumu sakit.

Betapa aku sadar bahwa aku adalah manusia tidak tahu diri; Menjadi awan untuk seseorang yang lebih menyukai mentari. Aku tebalkan diriku, aku naungi dirimu. Namun, kau menghindari, lalu memilih berpindah ke tempat terik yang tanpa kau ketahui hangatnya dapat menggores lembutnya kulitmu.

Dan kau tahu; 

Siapapun yang bertanya perihal sudah seikhlas apa aku, aku katakan “Aku ikhlas” Aku bohongi mereka, aku bohongi diriku sendiri. Sungguh, jika ikhlas itu dapat terlihat dengan nyata oleh sepasang mata, maka, di hatiku, tidak ada siapapun yang bisa menemukannya. Karena, kata “Ikhlas” itu memang tak pernah ada.

Oleh: Inisial L

Mungkin, aku tak pernah benar-benar mampu melepasmu. Namun, di antara luka dan kerinduan yang tak berujung, aku memilih untuk mendoakanmu. Karena meski aku bukan lagi bintang di langitmu, aku tetap ingin sinarmu terang, walau aku hanya bisa melihat dari kejauhan.

Karya kamu mau di post juga? 
Klik disini Untuk hubungi Admin ya! 

Find me : 

Posting Komentar

Posting Komentar

Jangan yang mengumbar kebencian ya! Enjoyed!!